Showing posts with label Tips Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Tips Bisnis. Show all posts

Wednesday, April 4, 2012

3 Step Menjalankan Bisnis


Beberapa tips untuk Anda yang ingin menjalankan usaha menurut Sonia Eryka Isabella (Pengusaha Fashion Online) :

1. Temukan minat usaha. Ketika memutuskan untuk berwirausaha, sebisa mungkin pilih bidang usaha yang disukai. "Bekerja dalam bidang yang disukai akan menimbulkan passion sendiri untuk bisa berusaha keras mendapatkan kesuksesan," tambahnya. Jika Anda memiliki bakat dan minat yang berbeda, jangan memaksakan diri berbisnis di bidang yang tak dikuasai dan disukai karena akan menimbulkan tekanan pada diri sendiri.

Sonia mengakui, ketika memilih fashion sebagai bidang usaha, ia selalu berjuang dengan maksimal untuk mencari tren-tren terbaru, inspirasi, serta kreativitas, agar selalu menghasilkan karya yang unik dan berbeda.

2. Jangan takut mencoba. Bisnis merupakan bidang baru bagi perempuan berusia 18 tahun ini, namun hal ini tak menyurutkan niatnya untuk mencoba peruntungan menjalankan bisnis online. "Jika sudah takut mencoba, maka kita tidak akan pernah tahu dan merasakan hal-hal baru," ungkapnya.

Tantangan dalam hidup untuk berani mencoba hal-hal baru bisa membantu kita untuk lebih bersemangat menjalani hidup, serta menemukan cara kita sendiri untuk lebih kreatif dan sukses.

3. Jangan mudah putus asa
. Tantangan dalan hidup seharusnya disikapi dengan keberanian dan sifat tak mudah menyerah. Tak ada cara yang instan untuk mendapatkan kesuksesan; dibutuhkan pengorbanan serta usaha yang keras. Namun, kedua hal ini tidak akan menjamin kesuksesan, jika masih memiliki sifat mudah menyerah ketika gagal ataupun berhenti di tengah jalan.

Setiap kesulitan dalam bisnis pasti ada jalan keluar yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut, asalkan tak mudah menyerah dengan keadaan.




Tujuh Point Kesuksesan Dalam Manajemen

Seorang manajer yang efektif memberikan perhatiannya di berbagai segi manajemen, kepemimpinan, dan pembelajaran dalam organisasi. Sehingga sulit untuk membuat topik "kesuksesan manajemen" dan mengatakan bahwa sepuluh item berikut adalah yang paling penting dalam kesuksesan manajeman. Namun, saya akan menyarankan tujuh ketrampilan sukses manajemen yang saya yakin belum bisa menjamin Anda sebagai manajer yang sukses. 
 
Isu terpenting dalam kesuksesan manajemen adalah menjadi seseorang yang orang lain ingin mengikutinya. Setiap tindakan yang Anda ambil dalam karir Anda di dalam organisasi membantu menentukan apakah suatu saat orang ingin mengikuti Anda.

Seorang manajer yang sukses, dimana orang lain ingin mengikutinya, adalah :
  1. Membangun hubungan antar personal yang efektif dan responsive. Pelaporan staf, kolega dan eksekutif yang menghargai kemampuannya untuk menunjukkan perhatian, kolaborasi, respek, kepercayaan, dan kepedulian.
  2. Berkomunikasi secara efektif secara personal, dalam bentuk cetakan, dan email. Mendengarkan dan feedback dua arah adalah karakternya dalam berinteraksi dengan orang lain.
  3. Membangun tim dan membuat staf lainnya untuk saling berkolaborasi dengan lebih efektif. Orang merasa mereka menjadi semakin efektif, kreatif, produktif – dengan kehadiran seorang team builder.
  4. Memahami aspek financial bisnis dan menentukan tujuan dan mengukur serta mendokumentasikan kemajuan dan kesuksesan staf.
  5. Tahu bagaimana menciptakan lingkungan dimana orang mendapatkan moral positif dan pengakuan serta karyawan termotivasi untuk bekerja keras demi kesuksesan bisnis.
  6. Memimpin melalui contoh dan memberikan pengakuan saat orang lain melakukan hal yang sama
  7. Membantu orang untuk tumbuh dan mengembangkan ketrampilan dan kemampuan mereka melalui pendidikan dan pembelajaran pekerjaan. 


Sumber: http://humanresources.about.com

Sunday, October 30, 2011

Cara Memulai Wirausaha

I Learned that courage was not the absence affear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear. - Nelson Mandela

Sebagian besar orang merasa ragu dan takut untuk memulai suatu wirausaha / bisnis karena beranggapan bahwa wirausaha / bisnis itu memerlukan modal yang besar, ruang yang luas, dan harus menyedikan lokasi khusus untuk tempat usaha. Padahal bisnis bisa dilakukan darimana saja, bahkan bisa dilakukan sambil tetap bekerja sebagai karyawan atau mengurus anak dan keluarga.

Membuat bisnis itu artinya kita harus benar-benar siap terjun bebas. Siap gagal, dan ketika bisnis itu gagal telan semua pahitnya dan mulai lagi. Keuntungan membuat bisnis antara lain memperkaya pengalaman, membuat lebih kreatif, ulet, tahan banting, dan bertanggung jawab. Selain itu kita juga dapat membuka lapangan kerja baru buat orang lain dan memperoleh tambahan penghasilan yang bisa saja jauh lebih besar daripada gaji ketika kita bekerja sebagai karyawan. Lalu bagaimana “start point” untuk mewujudkan wirausaha / bisnis?

  1. Lakukan hal yang dicintai.
    Keberhasilan tergantung dengan seberapa besar Anda mencurahkan hati terhadap bisnis tersebut. Hasrat yang besar karena Anda mencintai apa yang Anda lakukan akan menjadikan Anda seorang yang ahli dan gigih.
  2. Dari kehidupan sehari-hari
    Banyak pengusaha mendulang keuntungan dengan menjual hal-hal yang sepele yang kita temukan sehari-hari. Hal-hal yang sebenarnya penting namun orang malas untuk melakukannya. Buatlah bisnis yang pelanggan/pembeli malas melakukannya, atau tidak punya waktu untuk itu. Misalnya bisnis menyewakan tanaman untuk pertemuan atau acara-acara kawinan.
  3. Hobi
    Jadikan hobi sebagai suatu bisnis. Akan semakin menyenangkan jika kita tidak hanya sekedar melakukan hobi tetapi juga bisa menuai keuntungan dari hobi yang kita lakukan tersebut.
  4. Ahli dalam suatu bidang
    Jika pintar dalam suatu bidang tertentu misalnya ahli dalam berbahasa Inggris atau merangkai bunga, Anda dapat membagi ilmu tersebut sekaligus memperoleh keuntungan dari sana. Anda bisa membuka tempat kursus atau sebagainya meski hanya di rumah.
  5. Membeli hak jual
    Anda dapat membeli hak jual produk dari suatu perusahaan, apabila Anda tidak tahu apa yang harus dijual. Produk itu bisa berupa makanan atau barang. Pemberi hak jual biasanya memberikan keleluasaan untuk mengatur jumlah modal Anda sendiri.
  6. Segera mulai
    Jangan menunggu waktu lama untuk berbisnis. Menunda-nuda bisa membuat semuanya urung terealisasi akibat factor mood. Segera bergerak ketika Anda sudah tahu akan menjual suatu produk dan beri nama yang khas agar konsumen mudah mengingatnya.
  7. Tes market
    Anda dapat melakukan tes market dengan cara mengamati perubahan gaya hidup, daya beli konsumen, dan selera konsumen. Siapa tahu Anda justru bis menjadi pencipta trend. Ketika pasar sudah menerima produk kita, pertahankan kualitasnya. Hasil yang akan dipasarkan pertama kali menjadi poin penting yang akan dinilai oleh pasar. Selanjutnya, tetap pertahankan dan tingkatkan kualitas produk Anda di kemudian hari. Dengan demikian, Anda tak perlu lagi mencari-cari konsumen karena konsumen lah yang akan mencari-cari Anda.
Percayalah, kamu tidak akan pernah tahu jika kamu tidak pernah mencoba. Jangan takut untuk mulai membuka usaha, saya yakin jika kamu teguh dalam menjalankan usaha baru kamu maka kamu akan mendapatkan hasil yang setimpal dengan apa yang telah kamu lakukan.

Humility about how little I know has encouraged me to listen more carefully and more wisely. - John Templeton


sumber

Tuesday, October 25, 2011

Gaya kepemimpinan ala Steve Jobs

Steve Jobs memang termasuk luar biasa untuk ukuran seorang pemimpin. Betapa tidak, selain berhasil membawa Apple dari keterpurukan, Steve juga ternyata mampu mendorong Apple hingga menjadi perusahaan paling bernilai di pasar saham, mengungguli Exxon Mobil atau General Electric. Dalam tulisan ini, penulis mencoba memaparkan seni memimpin ala Steve Jobs. Suka atau tidak suka, Steve sudah membuktikan dan tampaknya kita tidak rugi bila bisa mengambil sesuatu dari hidupnya. Walaupun sedikit dan sebatas via artikel di situs tercinta ini.

Dunia mungkin tidak akan menyangka kalau seorang Steve Jobs yang hanya berstatus sebagai mahasiswa drop out dari sebuah universitas non unggulan di Amerika Serikat, Reed College, ternyata mampu mengubah dunia. Yup, mengubah dunia. Siapa yang bisa menduga bahwa industri rekaman di Amerika Serikat bahkan dunia ternyata bisa digoyang oleh Apple dengan ekosistem iTunes-nya. Lantas siapa pula yang bisa menerka kalau ternyata ponsel buatan Apple yang full berbasis sentuhan ternyata mampu merusak kenyamanan Blackberry dan Nokia di pentas perdagangan ponsel di seluruh dunia. Dan satu lagi, sampai tahun 2010, mungkin masih banyak orang atau bahkan pakar IT yang tidak percaya bahwa konsumen akan membutuhkan sesuatu yang disebut komputer tablet. Well, siapa yang berani menyangkal kesuksesan perusahaan berlogo "buah apel plus gigitan" ini kalau sampai saat ini saja  iPad dan iPad 2 ternyata mampu memberikan pemasukan sebesar tidak kurang dari 10 miliar dollar ke dalam kas Apple. Fantastis!

Semua orang percaya bahwa kedigdayaan Apple selaku perusahaan IT tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin pendiri sekaligus CEO-nya, Steve Jobs. Perfeksionis dan visioner dalam bidangnya adalah dua diantara sekian banyak karakter unik Steve yang diyakini mampu mendongkrak Apple hingga bisa mencapai tahta seperti saat ini. Melalui tulisan ini, penulis mencoba untuk memaparkan cara Steve memimpin perusahaan dan karyawan-karyawannya. Penulis berharap, pembaca pengusaha muslim yang kebetulan juga menyimpan kekaguman kepada tokoh yang satu ini bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian mengimplementasikannya ke dalam perusahaan ataupun bisnis masing-masing.

1. Detil itu penting

Pernah suatu pagi di hari Minggu pada tahun 2008, Vig Gundotra, salah satu petinggi Google, pernah dihubungi oleh Steve Jobs. Vic mungkin agak terkejut. Ia menyangka kalau Steve mungkin menghubunginya untuk sesuatu yang sangat penting, eh ternyata ia keliru. Sang pendiri Apple ternyata cuma ingin meminta izin kepada Vic supaya ia mau diajak berdiskusi untuk perubahan gradasi warna kuning pada huruf O kedua dalam logo Google yang ditampilkan di iPhone.

Pentingkah gradasi warna kuning di huruf O kedua pada logo perusahaan orang lain yang ada di produk Anda? Hmmm, Steve thinks so. Dan Steve menginterupsi Vic di hari Minggu, hari liburnya mereka. Keren.

Baca: The first time I met Steve Jobs

2. Jual mahal kalau memang "mahal"

Dari seluruh produk Apple, jarang sekali kita temui produk yang menjadi "murahan" di kelasnya. Susah mencarinya, bahkan mungkin tidak ada dan jangan-jangan tidak akan pernah ada. Di kelas tablet PC, iPad dan iPad 2 adalah produk kelas atas. Begitu pula untuk smartphone, iPhone adalah ponsel harga pejabat yang digunakan oleh hampir semua kalangan (sampai saat tulisan ini dibuat, sudah 100 juta lebih yang terjual). Di jajaran pemutar musik, iPod masih termasuk pemimpin pasar. Jadi jangan mimpi bisa membeli iPod dengan harga 100 - 200 ribu perak, kecuali kalau yang iPot-iPot-an. Hehehe .... merk cina maksudnya.

Dari cara Steve dan Apple membanderol dagangannya, kita jadi bisa menyimpulkan bahwa tidak selamanya konsumen akan selalu menjatuhkan pilihan pada produk yang harganya jauh lebih murah. iPad, iPod, iPhone, MacBook, dan iMac adalah contoh betapa mahalnya harga ternyata tidak berbanding lurus dengan turunnya angka penjualan. Sebagai konsumen Apple ataupun mereka yang sering bersentuhan dengan pecinta Apple, kita diberi tahu bahwa kualitas dan nilai lebih dari suatu produk adalah "harta terbesar" dari produk itu sendiri.

3. Berani unjuk gigi

Ketika Steve sedang di atas panggung, hampir semua orang menunggu-nunggu dengan penuh penasaran aksinya dalam mendemokan produk atau fitur dari sebuah produk. Dan inilah sesuatu yang ternyata jarang sekali dilakukan oleh CEO-CEO lain. Keberanian dan semangat menyala-nyala seperti yang ditunjukkan oleh Steve saat mendemokan produk-produk Apple adalah sebuah bukti tak terbantahkan atas besarnya minat dan cinta seorang manusia kelahiran tahun 1955 ini terhadap perusahaan dan tim yang berada di balik peluncuran produk itu sendiri.

Jadi bila Anda adalah seorang pendiri perusahaan atau CEO, lalu Anda justru meminta orang lain untuk mendemokan produk Anda di acara peluncurannya, ini bisa menjadi sebuah pertanyaan? Ada apa dengan Anda selaku CEO? Kemana cinta dan hati Anda?

4. Dunia tidak perlu konsep, dunia butuh produk yang nyata!

Oke, mungkin beberapa diantara Anda ada yang sangat senang melihat sesuatu yang super bagus meskipun itu bersifat konsep atau prototype. Tapi di dalam ekosistem Apple, hampir-hampir sulit sekali kita mendengar atau membaca bahwa Apple baru saja mengeluarkan produk yang bersifat konsep. Noupe! Prinsip Apple dalam menjual produk adalah "kami menjual produk terbagus yang bisa kami jual saat itu juga".

Ingat di tahun 2007 ketika iPhone muncul, saat itu, iPhone bukanlah smartphone dengan spesifikasi tertinggi. Kameranya hanya 2MP, konektivitasnya tidak didukung dengan teknologi 3G, dan masih banyak lagi kekurangan iPhone dibandingkan produk lain besutan Blackberry, Nokia, ataupun Samsung. Tapi Apple tetap melaju, mereka benar-benar menjual produk mereka, yang meskipun banyak memiliki kekurangan, tetapi tetap datang dengan beberapa fitur dan teknologi revolusioner seperti satu-satunya smartphone nyata (baca: bukan konsep atau sebatas prototype saja) pertama yang dijual tanpa keypad. Plus ditambah satu lagi, Apple juga memperkenalkan iPhone App Store ke seluruh dunia. Dengan dua fitur ini saja, iPhone sudah dianggap sebagai penyebab berubahnya lansekap jagat smartphone saat itu, juga saat ini.

Pengaruh iPhone atau produk-produk Apple lainnya tampak jelas. Sebelum iPhone, tidak ada satupun vendor yang berani menjual ponselnya ke publik tanpa keypad sungguhan. Sebelum Apple, vendor-vendor masih skeptis dan bersikap wait and see ketika hendak merilis produk di kelas tablet computer. Mereka takut akan merugi karena sistem operasi dan processor yang tersedia di pasaran saat itu tidak cukup bagus untuk mendukung komputasi jenis ini.

5. Pilihlah pegawai yang sebaik atau bahkan lebih baik ketimbang Anda

Suatu hari di tahun 1996, Steve pernah diwawancarai oleh reporter NPR, Terry Gross, terkait Apple corporate life style (baca: nilai-nilai perusahaan Apple). Steve dengan gamblang menjelaskan bahwa satu hal yang membedakan Apple dengan perusahaan besar lainnya adalah pada cara Apple merekrut pegawai-pegawainya. Menurut Steve, umumnya perusahaan besar merekrut pegawai yang nantinya bisa mereka suruh-suruh (to tell them what to do), tapi di Apple malah sebaliknya. Pegawai yang mereka rekrut adalah tipikal orang-orang yang justru bisa memberi tahu apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh Apple ke depan (we hire people to tell us what to do).

Masuk akal bukan? Di masa sekarang ini, atau bahkan di masa lampau, acap sekali kita temui tipikal pemimpin yang memilih pegawai yang dari segi level skill justru berada di bawahnya. Kalau sudah begini, masa depan perusahaan malah bisa suram. 

Baca: Steve Jobs: 'Computer Science Is A Liberal Art'

6. Apa itu visioner? Jangan lakukan riset pasar!

Menurut Steve Jobs, konsumen cenderung untuk menuntut produk-produk baru yang bersifat "lebih". Dalam artian, "lebih murah", "lebih cepat", dan "lebih baik". Kalau sudah begini, ruang untuk sebuah evolusi maupun revolusi produk mungkin malah agak tertutup. Jadi alih-alih mendengarkan konsumen secara membabi buta, Steve Jobs justru lebih menyukai jalan lainnya, yaitu "bikin saja dulu produknya, biar nanti konsumen melihat dan mencobanya. lalu perhatikan apa yang terjadi".

Teknik ini adalah sesuatu yang masuk akal juga bukan? Bukankah ketika dunia dikerumuni oleh para pengguna MS-DOS, pasar cenderung menuntut sebuah OS (baca: sistem operasi) baru yang mungkin lebih baik ketimbang MS-DOS, bisa berlari lebih cepat ketimbang MS-DOS, dan bahkan kalau bisa dengan banderol harga yang lebih murah. Kalau saja Steve Jobs menuruti kehendak pasar saat itu, mungkin Mac OS yang kita kenal sekarang bukanlah Mac OS X dengan GUI (graphical user interfacae) yang fantastis, yang datang dengan perangkat revolusioner seperti mouse yang saat itu merupakan sesuatu yang benar-benar baru.

Diluncurkannya Mac dengan dukungan grafis mewahnya - untuk ukuran saat itu - adalah sesuatu yang justru bertentangan dengan arus utama rata-rata pengguna komputer saat itu. Mereka mungkin terkejut bahwa sistem operasi yang lebih baik ketimbang MS-DOS ternyata tidak datang sesuai dengan konsep yang ada di dalam alam pikiran mereka. Hehehe, "Mac OS versi command line" .... yang benar saja.

7. Misterius itu bagus

Anda pernah tahu apa yang terjadi pada para penggemar Apple di detik-detik menjelang peluncuran iPhone pada tahun 2007 lalu? Mereka sangat-sangat penasaran. Mereka dibuat deg-degan atas apa yang nantinya bakal dipresentasikan dan didemokan oleh Steve Jobs di atas panggung. Mereka masih tidak habis pikir, apakah bisa sebuah perusahaan yang sebelumnya hanya membuat komputer, laptop, dan pemutar musik bisa membuat sebuah telepon genggam? Di saat dunia tampaknya sudah tidak butuh telepon lagi mengingat ketatnya persaingan yang sudah terjadi di antara vendor-vendor ponsel saat itu seperti Nokia, Samsung, RIM, Sony Ericcson, Motorola, LG, dan sebagainya. Bisakah Apple sukses? Ataukah jangan-jangan produk ini justru nantinya bisa membuat Apple bangkrut? Bukankah membuat smartphone bukan keahlian Apple? Kenapa tidak? Mungkin itulah yang diutarakan oleh Steve Jobs.

Dan itulah gunanya "misteri". Untuk urusan menjaga kerahasiaan produk, mungkin Apple adalah salah satu yang terbaik, kalau tidak boleh dibilang terbaik. Betapa tidak? Seluruh karyawan Apple, mulai dari CEO-nya sendiri sampai ke tingkat pegawai level menengah ke bawah secara kompak menjaga kerahasiaan produk mereka yang belum diperkenalkan. Betul bahwa biasanya ada bocoran informasi dari pihak internal Apple kepada pihak luar, tetapi bocoran itu justru membuat pengguna dan pecinta Apple tambah penasaran saja. Apa sebab? Karena yang dibocorkan adalah informasi umum tentang produk itu, tapi tidak tentang spesifikasinya, detil fiturnya, apa warnanya, dan sejenisnya. Jadi ketika iPhone hendak diluncurkan, seluruh dunia tahu bahwa Apple nanti akan meluncurkan sebuah telepon genggam, tapi mereka belum tahu kalau ternyata telepon genggam itu adalah sesuatu yang bisa sekeren dan serevolusioner iPhone.

8. Cukup satu atau dua warna saja

Steve bersama Apple-nya memang keren, ketika vendor-vendor lain sibuk memikirkan warna apa yang cocok untuk produk mereka (merah, merah kehitam-hitaman, pink, biru, biru muda, abu-abu, perak, hijau, dan lainnya), mereka justru hanya menyediakan sedikit pilihan warna saja untuk para penggunanya. Bila Anda perhatikan dengan seksama, umumnya produk-produk Apple memang tidak memiliki banyak pilihan warna (kecuali iPod). iPhone hanya dirilis dalam dua warna; hitam dan putih. Begitu pula dengan iPad dan Macbook. Bahkan untuk iMac tampaknya Apple hanya menyediakan satu warna saja, putih.

Dari sini kita bisa belajar bahwa terkadang memang sebaiknya kita tidak usah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Jadi alih-alih pusing dengan pilihan warna (yang biasanya tidak terlalu sulit untuk dikerjakan dan diselesaikan), kenapa kita tidak memikirkan hal-hal yang satu atau beberapa level lebih penting ketimbang warna. Kualitas bahan misalnya. User experience ataukah. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Ada begitu banyak hal penting yang harus Anda pikirkan terkait produk Anda. Warna memang salah satunya, tapi jangan terlalu banyak memusingkan soalnya.

Ada pepatah yang bilang kalau pemuda yang paling menarik itu adalah pemuda yang paling banyak misterinya. Hmm, saya kira kalau kata "pemuda" itu diganti dengan "perusahaan", saya rasa Apple-lah yang layak mengisi tempat itu.

9. Tidak apa-apa kok jadi CEO yang plin-plan

Steve Jobs sendiri mencontohkannya. Pernah suatu kali, Steve berargumen bahwa Apple tidak seharusnya mendorong tumbuh suburnya App khusus (seperti yang saat ini tersedia dalam jumlah ratusan ribu di Apple app store) yang akan menyebabkan berkurangnya frekuensi pengguna mereka dalam menggunakan Safari, browser besutan Apple sendiri di smartphone revolusioner mereka, iPhone. Di samping itu, Steve juga cenderung sangat khawatir dengan app karena pengguna hampir pasti tidak akan bisa mengontrol dengan baik apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh sebuah app terhadap data mereka.

Well, itu sih awalnya. Tapi dalam rentang waktu yang tidak lama setelah peluncuran iPhone untuk pertama kalinya, Steve Jobs akhirnya berubah. Pria yang sebelumnya lebih mendukung pemanfaatan Safari web app, kini justru lebih memihak ke app khusus. Dan cerita selanjutnya adalah sejarah manis untuk Apple. Dengan prinsip 70:30, Apple bisa ikut menimba emas sebanyak 30% dari setiap penjualan app khusus di Apple App Store yang dibuat oleh developer-developer independen dari seluruh dunia. Bila Apple sendiri mengklaim bahwa mereka sudah membayar $US 2 miliar untuk developer iOS, itu berarti mereka setidaknya mengantongi kurang lebih $US 800 juta (857.142.857). Wow, jumlah yang tidak buruk untuk biaya operasional sekaligus ongkos beli bandwith dan server milik Apple.

Bacaan lebih lanjut tentang kepemimpinan Apple bisa dijumpai di sini:

Guy Kawasaki: What I Learned From Steve Jobs (Google+)




sumber

Thursday, October 20, 2011

Tips Hindari Pembelian iPhone 4S Palsu

Sahabat tosu777™,  Peluncuran iPhone 4S memicu penjualan barang tiruan di toko-toko online. Fisik yang tidak beda jauh berbanding terbalik dengan harganya yang dibandrol jauh lebih murah.

Tentu dengan harga yang miring ada banyak hal yang dikorbankan termasuk spesifikasi, kualitas maupun keawetan barang tersebut. Nah untuk menghindari terjebak pembelian barang palsu, berikut tips yang bisa dilakukan:

1. Kenali harganya. Apabila harga yang dibandrol terlalu murah, maka barang tersebut patut dipertanyakan. Begitu juga apabila reseller menawarkan diskon yang tinggi.

2. Cermati spesifikasinya. Meski fisik dari barang tiruan menyerupai aslinya, namun seringkali ia memiliki spesifikasi yang berbeda. Entah itu ia menambahkan fitur baru atau malah mengurangi fitur yang seharusnya ada di barang aslinya.

3. Kebijakan pengembalian barang. Reseller yang terpercaya memiliki kebijakan pengembalian barang demi kepuasan konsumen. Waspadai apabila sejumlah reseller tidak menawarkan hal itu.

4. Garansi. Semua perusahaan smartphone menawarkan garansi yang melingkupi produk, aksesoris dan software. Reseller palsu tidak menawarkan hal serupa.

5. Akun Facebook dan Twitter. Banyak reseller yang memakai akun sosial media untuk berpromosi. Tidak ada salahnya mengecek akun mereka dan komentar yang diberikan konsumen di akun tersebut. Cari tahu juga mengenai berapa lama mereka memiliki akun itu untuk mengukur reputasinya.

Semoga dengan tips diatas sahabat dapat bijak dalam memilih produk yang diinginkan tanpa terjebak produk palsu.


sumber Cnet

Tuesday, October 18, 2011

Tips Presentasi Sukses Ala Steve Jobs


Pada tanggal 5 Oktober 2011 lalu, dunia sedang dilanda kehebohan. Penyebabnya bukanlah karena ada gedung di New York atau Palo Alto yang kena bom lagi, tapi karena adanya seorang manusia yang baru saja diambil oleh Allah SWT, yakni Steve Jobs. Betul Steve Jobs memang bukanlah seorang muslim, tapi ada begitu banyak kebaikan yang bisa diambil dari CEO Apple satu ini untuk kebaikan semua muslim, khususnya yang ingin jadi pengusaha.

Dan salah satunya adalah cara Steve dalam menyajikan presentasi. Dalam tulisan berikut, penulis mencoba untuk memaparkan beberapa trik yang sering digunakan oleh Steve Jobs dalam memberikan presentasi terkait produk-produk Apple.
Bagi Anda yang doyan mengikuti perkembangan Apple dan produk-produk besutannya seperti iPod, iPhone, iPad, Macbook, dan sejenisnya, Anda pastinya tahu kalau salah satu kunci sukses Apple dalam menjual produk-produk di atas adalah karena keren atau fantastisnya sang CEO dalam mempromosikan barang-barang tersebut di acara peluncurannya.
Tidak jarang, beberapa penonton yang ada di event peluncuran tersebut terkesima luar biasa sampai-sampai tidak keberatan untuk memberikan standing applause yang cukup lama layaknya mereka sedang berada di acara pemberian penghargaan-penghargaan besar seperti penyerahan hadiah nobel atau sejenisnya. Sungguh super!

1. Gunakan theme slide yang sederhana

Dalam setiap aksinya di acara peluncuran produk-produk Apple, Steve tampaknya selalu menggunakan theme slide yang itu-itu saja, yakni slide presentasi dengan warna atasan hitam dengan siluet biru tua di bagian bawah. Tapi, alih-alih membosankan, slide yang sederhana ini justru membantu para audiense untuk memfokuskan diri pada presentasi produk secara keseluruhan.
Dan ini adalah salah satu nilai plus dari Steve Jobs karena ada beberapa speakers di dalam acara peluncuran produk yang justru malah suka dengan tampilan slide yang rame dan menyibukkan mata. Tergantung dari tujuan dan untuk siapa presentasi yang Anda berikan, sebaiknya Anda memberi perhatian khusus untuk masalah ini.

2. Gunakan font yang jelas dan mudah dibaca

Helvetica adalah favorit Steve Jobs, dan begitu juga Apple. Dalam setiap kesempatan presentasinya, Steve tampaknya selalu menggunakan font ini dalam slide-nya. Salah satu keunggulan Helvetica yang sering tidak dijumpai di font lain adalah pada “clarity” atau kejelasannya, baik ketika ditampilkan dalam ukuran yang kecil maupun besar.
Bila Anda adalah seorang amatiran, terkadang Anda tergoda dan tergerak untuk menggunakan font yang terkini dan seaneh mungkin dengan tujuan untuk menarik perhatian pendengar. Padahal ini bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.

3. Gunakan kata-kata yang bersifat “hiperbola”

Pernahkah Anda mendengar Steve Jobs mengeluarkan kata-kata berikut secara berulang-ulang dalam acara peluncuran produknya; “Amazing”, “Fantastic”, “Awesome”, “Magical”, “Blown me away”, dan sejenisnya. Yup, Anda benar. Steve memang sering sekali menggunakan kata-kata atau ungkapan di atas untuk melukiskan betapa hebatnya fitur yang dimiliki oleh produk besutan Apple.
Dan terkadang kata-kata jenis inilah yang Anda butuhkan untuk menanamkan keyakinan kepada pendengar atau calon pelanggan Anda tentang kehebatan produk Anda. Tentunya dengan harapan bahwa para pendengar itupun nantinya akan meniru-niru Anda ketika menceritakan produk ini kepada teman-temannya. “Oh yeah, this new iPhone just blown me away. I just couldn’t speak no more.”

4. Ulangi dan ulangi lagi

Agar efek kata-kata hiperbolis tadi semakin mengena di hati dan neuron calon pelanggan Anda, jangan sungkan untuk mengatakannya secara berulang-ulang. Agar tidak terkesan membosankan, Steve biasanya mengulangi kata-kata hiperbolis ini dalam rentang waktu sekitar 5 menit atau setelah berakhirnya video atau penjelasan dari partnernya. Cara ini diharapkan mampu menghindari penonton dari rasa bosan gara-gara Anda sering mengulangi kata-kata sakti tadi.
Ingat selalu kata-kata ini: “Amazing”, “Fantastic”, “Awesome”, “Magical”, “Blown me away”. Dalam bahasa Indonesia, kita juga mempunyai padanannya. Tidak percaya? Coba ucapkan kata-kata ini; keren, heboh, menakjubkan, ajaib, aneh tapi nyata, dan luar biasa. Untuk membuatnya lebih “heboh” lagi, Anda tidak dilarang untuk mengganti “luar biasa” menjadi “luuuuuuuuuarrrrr biasa”. Hehehe, “ajaib” bukan?

5. Minimalisir kuantitas teks, maksimalkan di pernyataan

Dalam setiap slide yang Steve tampilkan, pria kelahiran tahun 1955 ini cenderung untuk menggunakan sesedikit mungkin teks. Teks di dalam slide hanya berfungsi sebagai pengingat saja. Sementara penjelasannya ada di dalam kepala dan ujung lidah Steve sendiri. Dengan demikian, penonton pun akan sulit memalingkan perhatiannya dari Steve.
Hal ini berbeda bila Anda menggunakan teks di dalam slide yang tampil dalam porsi besar dan banyak sehingga akan membuat penonton bosan karena mereka menganggap Anda lebih kelihatan seperti orang yang sedang membacakan alih-alih menjelaskan.

6. Merasa hebat, demokan!

Nah ini yang paling utama dalam sebuah peluncuran produk. Dan tampaknya, ini juga yang membuat Apple lebih bernilai ketimbang vendor-vendor lain di dunia teknologi informasi. Ketika Apple mengadakan peluncuran produk, Steve Jobs atau rekannya akan menyuguhkan hiburan tersendiri yang dirangkum bersama demo fitur. Contoh konkritnya terjadi pada tahun 2007 saat iPhone untuk pertama kalinya diluncurkan.
Waktu itu, Steve mendemokan bagaimana iPhone bisa digunakan untuk melihat peta denah alamat kedai makanan dan minuman melalui bantuan Google Maps. Dan asyiknya, Steve mendemokan kepada para penonton bahwa iPhone juga bisa langsung digunakan untuk menelepon kedai tersebut melalui antarmuka yang masih didominasi oleh denah peta kedai tadi.
Lalu apa yang membuat penonton gaduh? Mereka gaduh sambil memberi applause karena Steve memesankan makanan dan minuman untuk orang yang berada dalam gedung tempat acara tersebut dilangsungkan. Wow, tidak heran penonton langsung bersorak gembira. Siapa sih yang tidak gembira diberi makanan dan minuman gratis.

7. Gunakan video

Untuk penjelasan lebih jauh dari fitur-fitur tertentu, Steve Jobs lebih sering menyerahkan tugas ini kepada klip video. Dan ini adalah trik yang sangat bagus karena andai saja sebuah fitur diceritakan terlalu jelas dan dengan sifat “berpanjang lebar”, maka penonton akan bosan dan bisa-bisa ketiduran. Hal ini dicontohkan oleh Steve ketika ia mempresentasikan iPad 2.
Untuk membeberkan dampak apa yang sudah dibuat oleh iPad di seluruh dunia, Steve mempersilahkan penonton untuk menikmati video yang durasinya bisa antara 4 sampai 7 menit.

8. Buat perbandingan

Sebagai perusahaan dengan pengikut-pengikut fanatik, Apple acapkali membuat perbandingan secara eksplisit antara produknya dengan produk buatan vendor lain di depan publik. Salah satu contohnya adalah ketika Steve Jobs memperkenalkan MacBook Air sebagai laptop tertipis di seluruh dunia, Steve tidak takut membanding-bandingkan besutan Apple terbaru itu dengan produk lain yang tidak kalah tipisnya dari vendor teknologi terkemuka lainnya, Sony.
Selama itu bisa dipertanggungjawabkan, saya rasa Anda juga berhak untuk melakukan ini. Tapi ingat, Anda juga harus tahu bahwa Anda tidak perlu mempermalukan produk pesaing Anda di depan pendukung Anda seperti yang sering dilakukan oleh Steve selama ini. Maklum, agaknya kurang islami. Lagipula, tanpa menjelek-jelekkan produk pesaing pun, sebenarnya orang akan cenderung lebih memilih produk kita asalkan itu memang lebih bagus.

9. Jangan ceritakan berita buruk (pun yang biasa-biasa saja)

Selama presentasi dilakukan, Steve Jobs selalu menyebut-nyebut keberhasilan atau pencapaian besar perusahaannya. Jarang atau mungkin bahkan tidak pernah sama sekali seorang Steve menyebutkan berita buruk atau berita “biasa-biasa saja” yang menghinggapi Apple. Contohnya begini, dalam acara peluncuran iPad 2, Steve juga membeberkan bahwa aplikasi iBooks sudah menjadi channel tempat penggunanya untuk mengunduh tidak kurang dari 100 juta buku.
Selain itu, pria yang menyenangi mobil Mercedes dan Porsche ini juga membeberkan bahwa Apple sudah menyimpan kurang lebih 200 juta akun kartu kredit dari anggota-anggotanya di seluruh dunia. Tentu saja, hal-hal seperti ini akan turut membuat pendengar sekaligus calon pelanggan Anda akan semakin bersemangat untuk menjadi bagian dari perusahaan yang Anda bangun.

10. Suruh penonton mencoba sendiri

Dan inilah pentas pamungkas, supaya penonton tadi benar-benar terkesima dan bisa merasakan efek magis barang besutan perusahaan Anda, Anda tidak boleh ragu untuk meminta mereka mencoba langsung produk-produk tersebut. Selama mereka mencoba, biarkan mereka melakukan apa saja selama itu positif seperti menekan-nekan sisi luar produk, mengangkatnya ke atas dan ke bawah, merekamnya dengan video maupun mengambil gambarnya untuk publikasi ulang di blog atau situs milik mereka. Ah, Anda pasti sudah membayangkan sebuah usaha pemasaran gratis bukan?









Tuesday, April 26, 2011

4 Kesalahan Strategi Blog Perusahaan

Sejumlah perusahaan saat ini mulai melirik blog untuk menuangkan berbagai informasi serta untuk lebih mendekatkan diri dengan para stakeholder-nya. Namun awas, ada 4 kesalahan yang biasa dilakukan blog perusahaan.

1. Memulai Tanpa Strategi
Jangan memulai blog perusahaan Anda tanpa tujuan yang jelas. Sebab, tujuan ini selanjutnya akan berpengaruh terhadap isi blog tersebut. Jangan pula menganggap remeh blog ini hanya karena lantaran para penggunjungnya cuma sedikit. Sebab bisa jadi, dari segelintir orang itu justru yang akan menjadi klien atau partner bisnis perusahaan Anda.

"Kesalahan terbesar dari kebanyakan small business adalah ketika mereka menganggap kegiatan blogging itu sebagai suatu tugas yang mudah," tukas Marjorie R. Asturias, President dari perusahaan web marketing Blue Volcano Media, dikutip dari Mashable, Rabu (23/3/2011).

Ketika memikirkan strategi blog perusahaan Anda sebaiknya mempertimbangkan, apa tujuan dari blog ini? Apakah blog ini dapat menunjang bisnis perusahaan? Apa perlu mengalokasi sumber daya manusia yang khusus untuk mengelola blog ini? dan lainnya.

2. Berpikir Semua Hanya Tentang Perusahaan Anda

Inilah faktanya, perusahaan pasti ingin menunjukkan betapa hebatnya mereka di blog perusahaan yang mereka miliki. Sehingga dari hal itu, diharapkan akan menjadi sarana promosi bagi mereka kepada stakeholder-nya.

Namun sayang, blog bukanlah press section. Blog memang bisa digunakan untuk berbagi informasi namun berbeda tempatnya untuk sharing berita kepada media. Kemudian, cobalah untuk lebih peka terhadap kebutuhan audiens Anda. Jangan membuat blog perusahaan yang isinya cuma jualan, jualan, dan jualan.

Berikan informasi yang membantu audiens blog perusahaan Anda. Misalnya, memberikan tips & trik, informasi dari lembaga riset, data statistik, dan informasi berguna lainnya. Sesekali, tak ada salahnya juga mengumbar kelebihan produk yang dikeluarkan perusahaan Anda.

3. Gagal Membangun Link


Memiliki banyak link atau jaringan merupakan keunggulan yang bisa didapat lewat sebuah blog. Jadi, sangat disayangkan ketika sebuah blog perusahaan tak memiliki link sama sekali.

Link di sini juga bisa berarti dengan meng-link informasi yang Anda sampaikan di blog dengan sebuah sumber yang Anda kutip. Membuat link seperti ini bukan hanya masalah etika, namun juga demi menciptakan hubungan baik dengan sumber informasi lainnya.

"Ketika Anda menulis tentang saya, maka saya ingin membayarnya kembali. Jangan berpikir bahwa dengan 'mempromosikan' pihak lain jadi akan mendorong audiens Anda pergi. Ada banyak audiens yang berkeliaran di luar sana. Ketika Anda telah mengidentifikasi sesuatu yang luar biasa kepada audiens Anda, maka posting lah!," ujar Douglas Karr, penulis buku Corporate Blogging for Dummies.

4. Abaikan Media Sosial
Ketika Anda memposting tulisan baru, cobalah dilempar ke Twitter dan Facebook untuk didiskusikan lebih lanjut. Namun pastikan profil di akun media sosial Anda itu terhubung dengan blog perusahaan.

Nah, ketika sudah mendapat feedback dari pihak lain tentang tulisan tersebut, segera merespons. Jangan biarkan mereka menunggu dan buat mereka merasa dihargai dengan respon cepat Anda.

"Ingat, keuntungan terbesar dari media sosial adalah membangun hubungan. Jadi Anda harus berusaha untuk mengikatkan diri dengan pembaca dan merespons mereka sesegera mungkin. Buat mereka merasa berharga terhadap komunitas online Anda," imbuh Susan Gunelius, CEO perusahaan marketing communication KeySplash Creative.






detik.NET

Saturday, March 26, 2011

Tips Aman Menggunakan Kartu Kredit

Kartu kredit semakin dipercaya sebagai alat pembelian ganti uang. Bentuknya yang tipis, mudah dimasukkan dalam dompet, namun memiliki kemampuan yang lebih besar dibanding isi dompet tersebut. Katakanlah dompet bisa menampung uang 5juta. Dengan selembar kartu kredit, Anda bisa bebelanja lebih dari 5juta.
Selain fasilitas di atas, masih banyak program yang berkerja sama dengan berbagai macam kartu kredit, dari cicilan 0% hingga potongan 50% untuk makanan tertentu. Namun, dalam menggunakan kartu kredit harus berhati-hati agar tidak jatuh ke tangan orang yang jahat.
Berikut tips yang dipercaya aman untuk menggunakan kartu kredit:
  • Simpan kartu kredit di tempat yang aman.
  • Tidak pernah memberikan nomor kartu kredit lewat telepon.
  • Lingkari total pembelian pada slip transaksi untuk mencegah penyalahgunaan perubahan nilai total tagihan.
  • Jangan pernah menandatangani slip transaksi yang kosong.
  • Simpan dengan baik slip transaksi Anda. Selalu bandingkan slip transaksi dengan tagihan bulanan Anda.
  • Catat nomor kartu, tanggal jatuh tempo, dan nomor telepon penerbit kartu kredit Anda. Kemudian simpan data tersebut di tempat yang aman dan terpisah dari kartu kredit Anda. Data ini diperlukan untuk mengadukan kasus penipuan atau kehilangan.
  • Jangan pernah memberikan data kartu kredit Anda pada orang lain.
Dengan menerapkan sistem yang benar dalam menggunakan kartu kredit, dijamin Anda tidak akan mengalami masalah yang tidak menyenangkan. Sebaliknya, kartu tipis tersebut akan menjadi alat pembayaran yang sangat praktis


http://gugling.com/tips-aman-menggunakan-kartu-kredit.html